Saturday, September 27, 2014

hasil-hasil kebudayaan Praaksara, Hindu-Buddha, dan Islam

Kehidupan dan peradapan manusia selalu berubah menuju sebuah prikehidupan yang lebih baik. Sejak awal adanya kehidupan di Bumi ini, manusia selalu belajar dan mempelajari alam, mereka berusaha beadapatasi dengan alam, kemudian berusaha untuk membuat alat atau perangkat yang bisa membuat mereka nyaman dan bisa tetap bertahan hidup. Bahkan untuk jaman sekarang manusia sudah bisa membuat alam menjadi lebih berguna dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya. berikut ini adalah perkembangan kebudayaan dan hasil pola pikir manusia dari jaman praaksara, jaman Hindu Buddha dan jaman Islam.

Ketika  pra asksara 
Secara geografis manusia saat itu hanya tersebar dibeberapa tempat saja di bumi ini. manusia kebanyakan mengembara dan tidak mempunyai tempat tinggal atau nomaden. Mereka akan mencari tanah lapang yang banyak hewan atau tumbuhan untuk kebutuhan makanan mereka. Berburu adalah keahlian pertama yang dimiliki oleh manusia pra aksara. Jika potensi makanan dirasa sudah habis maka mereka akan berpindah ke daerah lain yang lebih banyak menyediakan makanan. Tetapi dengan berubahnya waktu, kemudian ada pemikiran untuk menetap dengan tinggal di rumah sederhana dan goa-goa yang dekat dengan aliran sungai. Pada masa itu sudah dikenal kegiatan bercocok tanam dan memelihara beberapa hewan ternak. Jadi manausia sudah tinggal pada tempat yang sama meskipun sederhana dalam sebuah koloni yang jumlahnya terbatas.

Jika dilihat dari kegiatan ekonomi pada masa praaksara, pemenuhan kebutuhan hanya untuk dikonsumsi pada hari yang sama, misalnya : jika mendapat buruan hewan maka akan langsung dimakan pada saat itu juga. Pada jenis biji-bijian tertentu akan disimpan untuk persediaan jika tidak mendapatkan hewan buruan. Pola pikir yang berkembang akhirnya memunculkan sistem barter yang berguna untuk mengatasi perbedaan kebutuhan yang sudah mulai berkembang pesat.

Pada masa ini kebudayaan juga berkembang pesat, awalnya manusia yang hanya berjumlah sedikit tidak terlalu memerlukan budaya yang mengatur kehidupan mereka, tetapi jumlah populasi yang semakin besar akhirnya menimbulkan masalah antar individu yang perlu ada solusi, sehingga mereka belajar untuk membuat norma dan nilai. Kemudian mereka membuat pembagian tugas, misalnya: ada yang jadi pemburuh, petani, tukang logam, dan kepala suku. Selain itu juga sudah mulai ditemukan bahasa verbal untuk berkomunikasi dan kesenian yang berupa seni lukis dan nyanyian.

Dengan pertambahan jumlah penduduk menyebabkan muncul koloni-koloni manusia prakasara yang cukup besar yang kemudian mengangkat seorang pemimpin atau kepala suku, dimana dia secara politik dipilih dari orang paling dihormati atau yang paling kuat. Sehingga mampu memberi perlindungan bagi anggota koloni yang lain. 

Ketika masa Hindu Buddha
Hubungan Indonesia dengan India sudah terjalin sejak lama, secara geografis kedua kawasan bisa dijangkau dengan kapal laut memlalui samudera Hindia. Agama Hindu Buddha sengat berkembang di India yang kemudian ajarannya dibawa oleh pedagang masuk ke Nusantara. Dan penduduk menerima kepercayaan ajaran Hindu Buddha dengan baik dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari pada saat itu. 

Munculnya pedagang-pedagang dari India membuat pelabuhan yang ada di Indonesia menjadi ramai dan kegiatan ekonomi meningkat.  Barang dagangan yang berupa kain dan keramik dari India kemudian ditukar dengan rempah-rempah yang berasal dari Nusantara. Proses itu membuat semua kebutuhan rakyat dibeberapa kerajaan bisa dipenuhi dengan baik dan kesejahteraan meningkat.

Sejak masuknya Agama Hindu-Buddha, budaya warga nusantara menjadi berubah dan ada sistem kasta pada Agama Hindu sehingga beberapa kerajaan ada pembagian kasta antara brahmana yaitu kaum pendeta, ksatria yaitu kaum bangsawan, waisya yaitu kaum pedagang  dan sudra yaitu kaum rakyat jelata. Seni budaya yang berkembang berupa tarian, pertunjukan wayang dan sangat banyak karya sastra, terutama dari kerajaan-kerajaan yang ada di pulau Jawa. 

Kerajaan bernuansa Hindu Buddha muncul pertama kali di Pulau Kalimantan dan merubah peta perpolitikan saat itu, dimana biasanya kepala suku sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kemudian digantikan oleh raja yang berkuasa mutlak dan apabila mangkat akan digantikan oleh keturunannya. Sehingga pada saat itu muncul beberapa dinasti kerajaan.

Ketika masa Islam
Selain India, ada pedagang lain juga yang rajin mengunjungi Indonesia untuk berdagang kebutuhan sehari-hari. Mereka mengarungi samudera Hindia yang secara geografis sangat luas dengan kapal dagang. Kedatangan kapal dari Arab biasanya membawa kebutuan misal: minyak wangi, kain dan lainya. Ketika mereka kembali akan membawa hasil bumi Indonesia yang akan dijual kembali di jazirah Arab. Pedagang inlah yang membawa Ajaran Islam kepada rakyat pribumi tertama yang tinggal di pesisir pantai. Dan ada sebagian dari mereka juga menikah dengan warga setempat sehingga mempercepat tumbuhnya agama Islam di Indonesia. Selain itu, perdangan ini bisa menambah kesejahteraan rakyat nusantara secara ekonomi saat itu.

Secara ekonomi sudah terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara pedagang Arab dan Gujarat dengan pedagang dari Indonesia. Sehingga kebutuhan masing-masing penduduk bisa terpenuhi dengan baik. Selain itu ada beberapa kerajaan Islam yang menggunakan mata uang dari Arab sebagai alat transaksi perdagangan.

Secara sosial, Islam tidak mengenal kasta, sehingga hal ini membuat rakyat mudah menerima ajaran Islam, selain itu runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu Buddha semakin mendukung berkembangnya Islam. Hasil karya seni budaya pada masa Islam banyak dipengarui budaya arab, Misalnya : karya kaligrafi, musik gambus, dan karya sastra berupa : Hikayat, Suluk serta syair.

Dalam kerajaan Islam, secara politik gelar Raja digantikan menjadi Sultan yang mempunyai penasehat yaitu ulama. Raja akan selalu mendiskusikan kebijakan dengan ulama agar rakyat bisa lebih sejahtera hidupnya. Sultan akan digantikan keturunannya atau putra mahkota apabila dia mangkat dari kekuasaannya.






No comments:

Post a Comment